Pada akhirnya kita melangkah sendiri-sendiri kan? Bertanggung jawab atas setiap pilihan yang kita ambil, sendiri. Memperjuangkan takdir hidup kita, sendiri. Hingga merangkum setiap getirnya hari-hari juga sendiri.
Pada akhirnya kita melangkah sendiri-sendiri kan? Bertanggung jawab atas setiap pilihan yang kita ambil, sendiri. Memperjuangkan takdir hidup kita, sendiri. Hingga merangkum setiap getirnya hari-hari juga sendiri.
sesuatu yang belum halal disentuh dengan tangan, sentuhlah hatinya dengan doa :)
Membela hak pejalan kaki. Penjelasan video: Pada sore hari sekitar pukul lima sore, perekam video ini sedang berhenti sejenak di bawah jembatan Semanggi karena macet yang luar biasa. Sembari menunggu lalu lintas berkurang, dia melihat-lihat keadaan. Jalanan yang padat membuat banyak pengendara motor yang mengambil jalan pintas, naik ke trotoar. Hal ini rupanya membuat berang seorang ibu muda yang dengan gagahnya melabrak para pengendara motor yang naik ke trotoar. Semuanya dipaksa turun olehnya.
Kenapa pejalan kaki perlu dibela? Karena di jalan, pejalan kaki telah lama menjadi musuh bersama. Karena selama ini, pejalan kaki telah dicederai hak-haknya.
trotoar itu punya pejalan kaki!! si ibu ini kereeeeen, haha.. xD
…perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat, hebat sekali benda bernama perasaan itu, dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah harimu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang.
Tere Liye dalam Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
(via kuntawiaji)
(Source: kurniawangunadi, via kuntawiaji)
Hidup kita singkat saja. Begitu lahir kita diadzankan, saat meninggal kita dishalatkan. Panjang usia kita cuma rentang waktu antara adzan dan shalat.
(Source: fuckyeahmahasiswa)

(Source: leoneskc, via shafirameidyana)
Kita kadang merasa lebih benar, lebih baik, lebih tinggi, dan lebih suci dibanding mereka yang kita nasehati.
Hanya mengingatkan kembali kepada diri ini: jika kau merasa besar, periksa hatimu. Mungkin ia sedang bengkak.
Jika kau merasa suci, periksa jiwamu. Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani.
Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu. Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan.
Jika kau merasa wangi, priksa ikhlasmu, mungkin itu asap dari amal shalihmu yang hangus dibakar riya
Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri…
Kau tersenyum membaca tulisanku. Padahal aku menulis karena membaca senyummu.